Usia Ideal Tanaman Kopi Produktif
TEMPO.CO, Jakarta -Menurut Ucu Sumirat, peneliti dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) atau Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute (ICCRI) yang selama ini banyak melakukan kegiatan penelitian di Lampung, usia ideal tanaman kopi yang produktif, yakni, 5 tahun sampai 20 tahun.
Tanaman kopi dapat disebut tua jika telah melewati usia 20 tahun. Kenyataannya, pada perkebunan-perkebunan kopi rakyat di Indonesia sangat mudah menemukan tanaman kopi berusia hingga 30 tahun.
Pohon kopi yang tua dapat terlihat dari bentuk atau morfologi tanamannya. Bentuk batangnya lebih besar dan cenderung keropos; tidak optimal lagi untuk menopang produktifitas buah.
Selain itu, akar tanaman kopi yang sudah tua tidak optimal untuk menyerap bahan makanan. "Oleh karena itu produktifitasnya lebih rendah sekitar 30 persen dibandingkan tanaman kopi yang muda-muda," jelas Pujiyanto, peneliti senior Puslitkoka.
Sebagai lembaga penelitian kopi di Indonesia yang sudah berusia lebih dari 100 tahun, Puslitkoka melakukan pengamatan bahwa dampak penurunan produktifitas akibat populasi tanaman kopi tua salah satunya terjadi di Lampung. Provinsi ini tercatat pada Ditjen Perkebunan sebagai produsen kopi terbesar nomor dua di Indonesia, setelah Sumatera Utara. Luas areal perkebunan kopi di Lampung mencapai 163,179 hektar, dengan rata-rata produksi sebesar 1 ton per hektar.
Pujiyanto memberi ilustrasi, rata-rata populasi tanaman kopi di lampung adalah 2000 pohon per hektar. Lewat acuan itu diperkirakan populasi tanaman kopi di Lampung, mencapai 326 juta pohon. Diperkirakan 50 persen dari total lahan kopi di Lampung merupakan lahan turun temurun dengan usia pengelolaan rata-rata lebih dari 20 tahun. "Dari ilustrasi itu, kira-kira populasi tanaman kopi yang tidak produktif di Lampung mencapai 160 juta pohon," papar Pujiyanto.
Potensi produktifitas yang hilang akibat tanaman-tanaman kopi tua di Lampung itu, menurut Teguh Wahyudi, Direktur Puslitkoka mencapai 50 persen. Itu baru di Lampung. Belum lagi di daerah- daerah penghasil kopi lainnya seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan lain-lain.
Sebagai catatan, fenomena tanaman kopi tua tidak hanya khas Lampung. Data USDA menyebutkan bahwa populasi tanaman kopi tua di Indonesia mencapai 30 persen dari total populasi tanaman kopi di tanah air.
Jika persoalan ini tidak segera diatasi, penurunan reputasi Indonesia sebagai produsen kopi terbesar ketiga di dunia hanya tinggal menunggu waktu. Produksi berkurang, penghasilan petani berkurang, ekspor berkurang, dan devisa negara berkurang.
Perlu kerjasama dan perhatian berbagai pihak mulai dari pemerintah, pihak swasta, pengusaha dan para petani yang memegang peranan langsung dalam mata rantai produksi dan bisnis kopi.
Tanaman kopi dapat disebut tua jika telah melewati usia 20 tahun. Kenyataannya, pada perkebunan-perkebunan kopi rakyat di Indonesia sangat mudah menemukan tanaman kopi berusia hingga 30 tahun.
![]() |
| Usia Ideal Tanaman Kopi Produktif, Iklim Indonesia Pengaruhi Khas Kopi Kualitas Dunia |
Pohon kopi yang tua dapat terlihat dari bentuk atau morfologi tanamannya. Bentuk batangnya lebih besar dan cenderung keropos; tidak optimal lagi untuk menopang produktifitas buah.
Selain itu, akar tanaman kopi yang sudah tua tidak optimal untuk menyerap bahan makanan. "Oleh karena itu produktifitasnya lebih rendah sekitar 30 persen dibandingkan tanaman kopi yang muda-muda," jelas Pujiyanto, peneliti senior Puslitkoka.
Sebagai lembaga penelitian kopi di Indonesia yang sudah berusia lebih dari 100 tahun, Puslitkoka melakukan pengamatan bahwa dampak penurunan produktifitas akibat populasi tanaman kopi tua salah satunya terjadi di Lampung. Provinsi ini tercatat pada Ditjen Perkebunan sebagai produsen kopi terbesar nomor dua di Indonesia, setelah Sumatera Utara. Luas areal perkebunan kopi di Lampung mencapai 163,179 hektar, dengan rata-rata produksi sebesar 1 ton per hektar.
Pujiyanto memberi ilustrasi, rata-rata populasi tanaman kopi di lampung adalah 2000 pohon per hektar. Lewat acuan itu diperkirakan populasi tanaman kopi di Lampung, mencapai 326 juta pohon. Diperkirakan 50 persen dari total lahan kopi di Lampung merupakan lahan turun temurun dengan usia pengelolaan rata-rata lebih dari 20 tahun. "Dari ilustrasi itu, kira-kira populasi tanaman kopi yang tidak produktif di Lampung mencapai 160 juta pohon," papar Pujiyanto.
Potensi produktifitas yang hilang akibat tanaman-tanaman kopi tua di Lampung itu, menurut Teguh Wahyudi, Direktur Puslitkoka mencapai 50 persen. Itu baru di Lampung. Belum lagi di daerah- daerah penghasil kopi lainnya seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan lain-lain.
Sebagai catatan, fenomena tanaman kopi tua tidak hanya khas Lampung. Data USDA menyebutkan bahwa populasi tanaman kopi tua di Indonesia mencapai 30 persen dari total populasi tanaman kopi di tanah air.
Jika persoalan ini tidak segera diatasi, penurunan reputasi Indonesia sebagai produsen kopi terbesar ketiga di dunia hanya tinggal menunggu waktu. Produksi berkurang, penghasilan petani berkurang, ekspor berkurang, dan devisa negara berkurang.
Perlu kerjasama dan perhatian berbagai pihak mulai dari pemerintah, pihak swasta, pengusaha dan para petani yang memegang peranan langsung dalam mata rantai produksi dan bisnis kopi.
Kopi Klotok, Cara Berbeda Menikmati Secangkir Kopi
TEMPO Interaktif, Magelang - Banyak cara menikmati kopi. Dari diseduh dengan dituang air panas hingga merebusnya langsung dalam satu wadah. Cara berbeda dalam menyeduh kopi, tentu menghasilkan citarasa berbeda.
Kopi klotok adalah satu dari berbagai cara menikmati secangkir kopi. Berbeda dengan yang dilakukan kebanyakan orang, kopi klotok diseduh dengan cara direbus bersama air dalam satu panci. Hasilnya, kopi kental dengan rasa pahit pas di lidah.
Selain menawarkan nikmat kopi klotok, tempat itu sekaligus menyajikan makanan khas ndeso dan tempat peristirahatan di tengah perjalanan. “Rest area,” kata wanita berusia 32 tahun itu.
Menurut dia, tak ada bahan berbeda pada kopi klotok. Kopi jenis robusta atau arabika, semua bisa. Hanya, untuk mendapatkan citarasa kopi istimewa, biji kopi yang digunakan haruslah matang di pohon.
Biji kopi yang telah merah, lanjut dia, tak perlu buru-buru dipetik. Biarkan jatuh sendiri ke tanah. Akibatnya, tak jarang biji kopi yang digunakan pun telah berwarna kehitaman. “Itu tandanya matang pohon,” kata dia.
Untuk membuat secangkir kopi klotok, Darwiyanto, 23 tahun, seorang peramu di tempat itu mengatakan, awalnya bubuk kopi dimasak tanpa air dalam panci. Setelah menebarkan aroma gosong, kopi baru dituang air dan direbus hingga mendidih.
Menurut dia, gosong bubuk kopi yang terpanggang dalam panci itulah yang menciptakan aroma kopi yang kuat. “Setelah mendidih, baru dimasukkan gula secukupnya,” kata dia.
Ayu mengatakan, nama kopi klotok berasal dari dua hal. Pertama diambil dari proses memasaknya. Bubuk kopi terpanggang yang lengket di atas panci akan terkelupas saat disiram air. Dalam bahasa jawa, bubuk itu disebut nglothok (mengelupas).
Selain itu, lanjut dia, klotok juga berasal dari nama kampung tempat kopi itu dipopulerkan. Klotok adalah nama sebuah kampung di Cepu Jawa Tengah.
Lepas dari perdebatan asal usul namanya, kopi Klotok memang nikmat. Apalagi harganya cukup terjangkau, Rp 5 ribu per gelas di warung itu.
Seorang penggemar kopi klotok, Ngadisa mengatakan pahit rasa kopi klotok cukup pas di lidah. Di waktu senggang, dia sering menyempatkan diri mampir. Terlebih letak kedai itu hanya satu kilometer dari tempatnya berkantor. “Nikmat hingga ke ampas-ampasnya,” kata lelaki yang menjabat Kepala Kepolisian Sektor Secang itu.
Kopi klotok adalah satu dari berbagai cara menikmati secangkir kopi. Berbeda dengan yang dilakukan kebanyakan orang, kopi klotok diseduh dengan cara direbus bersama air dalam satu panci. Hasilnya, kopi kental dengan rasa pahit pas di lidah.
![]() |
| Kopi Klotok, Cara Berbeda Menikmati Secangkir Kopi |
“Aroma kopinya pun kuat,” kata Ayu Kusumadewi, seorang pengelola kedai Kopi Klotok di raya Magelang-Semarang Secang Kabupaten Magelang, Kamis, 5 Agustus 2010.
Selain menawarkan nikmat kopi klotok, tempat itu sekaligus menyajikan makanan khas ndeso dan tempat peristirahatan di tengah perjalanan. “Rest area,” kata wanita berusia 32 tahun itu.
Menurut dia, tak ada bahan berbeda pada kopi klotok. Kopi jenis robusta atau arabika, semua bisa. Hanya, untuk mendapatkan citarasa kopi istimewa, biji kopi yang digunakan haruslah matang di pohon.
Biji kopi yang telah merah, lanjut dia, tak perlu buru-buru dipetik. Biarkan jatuh sendiri ke tanah. Akibatnya, tak jarang biji kopi yang digunakan pun telah berwarna kehitaman. “Itu tandanya matang pohon,” kata dia.
Untuk membuat secangkir kopi klotok, Darwiyanto, 23 tahun, seorang peramu di tempat itu mengatakan, awalnya bubuk kopi dimasak tanpa air dalam panci. Setelah menebarkan aroma gosong, kopi baru dituang air dan direbus hingga mendidih.
Menurut dia, gosong bubuk kopi yang terpanggang dalam panci itulah yang menciptakan aroma kopi yang kuat. “Setelah mendidih, baru dimasukkan gula secukupnya,” kata dia.
Ayu mengatakan, nama kopi klotok berasal dari dua hal. Pertama diambil dari proses memasaknya. Bubuk kopi terpanggang yang lengket di atas panci akan terkelupas saat disiram air. Dalam bahasa jawa, bubuk itu disebut nglothok (mengelupas).
Selain itu, lanjut dia, klotok juga berasal dari nama kampung tempat kopi itu dipopulerkan. Klotok adalah nama sebuah kampung di Cepu Jawa Tengah.
Lepas dari perdebatan asal usul namanya, kopi Klotok memang nikmat. Apalagi harganya cukup terjangkau, Rp 5 ribu per gelas di warung itu.
Seorang penggemar kopi klotok, Ngadisa mengatakan pahit rasa kopi klotok cukup pas di lidah. Di waktu senggang, dia sering menyempatkan diri mampir. Terlebih letak kedai itu hanya satu kilometer dari tempatnya berkantor. “Nikmat hingga ke ampas-ampasnya,” kata lelaki yang menjabat Kepala Kepolisian Sektor Secang itu.
Menikmati Kopi Rasa Kuno
TEMPO.CO , Jakarta: Latip Yulus mengaduk-aduk kopi campuran racikannya. Sesekali, ia mendekatkan hidungnya dan mencium uap aroma yang menguar dari cairan berwarna hitam pekat itu. "Kopi yang bagus aromanya tak terlalu kuat," begitu kata Ayouw, sapaan akrab Latip.
Bagi pria berusia 62 tahun ini, membuat kopi bukan perkara yang mudah. Dia hanya mau meracik kopi dengan kualitas jempolan. Pria keturunan Tionghoa ini tak mau meracik kopi sembarangan yang dijajakan di pertokoan. Apalagi merasakan kopi instan sachet.
Di warung kopinya, Es Tak Kie, yang terletak di Jalan Pintu Besar 3, Gang Gloria, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Ayouw memang hanya menyediakan kopi berkualitas. Lima varian kopi dari Lampung, Toraja, dan Padang, dia campurkan. "Karena kalau diseduh satu-satu, rasanya kurang mantap," katanya menjelaskan.
Dibesarkan dari keluarga penjual kopi, membuat Ayouw tahu seperti apa kopi berkualitas jawara. Terlebih sudah 40 tahun lebih, dia berkecimpung meneruskan usaha yang dirintis kakeknya, Liong Kwie Tjong, sejak 1927 itu. "Saya selalu mencari kopi yang bagus, kalau tak bagus saya enggak mau," katanya sambil menggeleng.
Untuk menghasilkan campuran kopi istimewa itu, Ayouw juga hanya mau berbelanja kopi yang masih berbentuk biji. Sebab, jika sudah menjadi bubuk, kualitasnya diragukan. "Saya tak tahu itu campuran apa saja," ucapnya.
Untuk menyeduhnya pun pria yang hampir seluruh rambutnya telah beruban ini punya trik tersendiri. Agar menghasilkan cita rasa yang maksimal, usai diberi air panas dan diaduk, gelas berisi kopi itu terlebih dahulu dia tutup. "Karena kalau enggak ditutup, enggak jadi kopinya," ujar dia.
Ayouw mesti menutup gelasnya sekitar sepuluh menit. Di sela itu, dia sesekali mengaduk-aduk kopi campurannya tersebut.
Dan benar saja, setiap kali diaduk, aroma yang keluar menjadi berbeda, semakin harum. Rasanya juga bertambah nikmat.
Usai melalui proses ini, kopi baru bisa diberi susu atau pun gula, sesuai selera pelanggan. Namun, tanpa diberi gula atau pemanis lainnya pun, kopi bikinan Ayouw sudah mengeluarkan sedikit rasa manis. "Rasanya pahitnya bikin nagih," kata Wulan, satu konsumen yang baru mencoba menikmati kopi itu.
Maka tak heran, meski pun kedai-kedai kopi modern banyak bermunculan di Jakarta, warung kopi Ayouw masih punya banyak pelanggan. Menurut dia, pelanggannya berasal mulai dari mahasiswa, dosen, guru, pegawai, sampai tukang ronda. Selain karena harga kopinya yang relatif lebih murah, yakni berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per gelas besar, mereka juga setia karena rasa kuno yang ditawarkan Ayouw. "Mereka kembali lagi ke sini karena bosan dengan kopi modern," katanya.
Apalagi, suasana kedai milik keluarga Ayouw yang dibuka dari jam 06.30 sampai 14.00 itu cukup mendukung suasana kuno ini. Meja dan kursinya, masih terbuat dari kayu. Usianya pun sudah puluhan tahun. "Sejak saya lahir, sudah pakai kursi kayu jati ini," ujarnya menambahkan.
Selain dari kalangan itu, penikmat kopi Tak Kie juga ada yang berasal dari golongan orang terkenal, seperti artis Widyawati, pebulu tangkis Lim Swie King, Menteri Pariwisata Marie Elka Pangestu, dan calon Gubernur Jakarta Jokowi. "Dulu sebelum pemilihan putaran pertama Jokowi ke sini," katanya sambil memperlihatkan foto Jokowi yang tengah menikmati kopi.
![]() |
| Menikmati Kopi Rasa Kuno |
Bagi pria berusia 62 tahun ini, membuat kopi bukan perkara yang mudah. Dia hanya mau meracik kopi dengan kualitas jempolan. Pria keturunan Tionghoa ini tak mau meracik kopi sembarangan yang dijajakan di pertokoan. Apalagi merasakan kopi instan sachet.
Di warung kopinya, Es Tak Kie, yang terletak di Jalan Pintu Besar 3, Gang Gloria, Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Ayouw memang hanya menyediakan kopi berkualitas. Lima varian kopi dari Lampung, Toraja, dan Padang, dia campurkan. "Karena kalau diseduh satu-satu, rasanya kurang mantap," katanya menjelaskan.
Dibesarkan dari keluarga penjual kopi, membuat Ayouw tahu seperti apa kopi berkualitas jawara. Terlebih sudah 40 tahun lebih, dia berkecimpung meneruskan usaha yang dirintis kakeknya, Liong Kwie Tjong, sejak 1927 itu. "Saya selalu mencari kopi yang bagus, kalau tak bagus saya enggak mau," katanya sambil menggeleng.
Untuk menghasilkan campuran kopi istimewa itu, Ayouw juga hanya mau berbelanja kopi yang masih berbentuk biji. Sebab, jika sudah menjadi bubuk, kualitasnya diragukan. "Saya tak tahu itu campuran apa saja," ucapnya.
Untuk menyeduhnya pun pria yang hampir seluruh rambutnya telah beruban ini punya trik tersendiri. Agar menghasilkan cita rasa yang maksimal, usai diberi air panas dan diaduk, gelas berisi kopi itu terlebih dahulu dia tutup. "Karena kalau enggak ditutup, enggak jadi kopinya," ujar dia.
Ayouw mesti menutup gelasnya sekitar sepuluh menit. Di sela itu, dia sesekali mengaduk-aduk kopi campurannya tersebut.
Dan benar saja, setiap kali diaduk, aroma yang keluar menjadi berbeda, semakin harum. Rasanya juga bertambah nikmat.
Usai melalui proses ini, kopi baru bisa diberi susu atau pun gula, sesuai selera pelanggan. Namun, tanpa diberi gula atau pemanis lainnya pun, kopi bikinan Ayouw sudah mengeluarkan sedikit rasa manis. "Rasanya pahitnya bikin nagih," kata Wulan, satu konsumen yang baru mencoba menikmati kopi itu.
Maka tak heran, meski pun kedai-kedai kopi modern banyak bermunculan di Jakarta, warung kopi Ayouw masih punya banyak pelanggan. Menurut dia, pelanggannya berasal mulai dari mahasiswa, dosen, guru, pegawai, sampai tukang ronda. Selain karena harga kopinya yang relatif lebih murah, yakni berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per gelas besar, mereka juga setia karena rasa kuno yang ditawarkan Ayouw. "Mereka kembali lagi ke sini karena bosan dengan kopi modern," katanya.
Apalagi, suasana kedai milik keluarga Ayouw yang dibuka dari jam 06.30 sampai 14.00 itu cukup mendukung suasana kuno ini. Meja dan kursinya, masih terbuat dari kayu. Usianya pun sudah puluhan tahun. "Sejak saya lahir, sudah pakai kursi kayu jati ini," ujarnya menambahkan.
Selain dari kalangan itu, penikmat kopi Tak Kie juga ada yang berasal dari golongan orang terkenal, seperti artis Widyawati, pebulu tangkis Lim Swie King, Menteri Pariwisata Marie Elka Pangestu, dan calon Gubernur Jakarta Jokowi. "Dulu sebelum pemilihan putaran pertama Jokowi ke sini," katanya sambil memperlihatkan foto Jokowi yang tengah menikmati kopi.
Cara Cara Menyeduh Kopi dapat Mempengaruhi Rasa
TEMPO.CO, Jakarta - Kopi tidak hanya menjadi minuman penahan kantuk. Kopi sudah menjadi gaya hidup sebagian besar orang yang meminumnya dalam berbagai kesempatan. Kala bekerja, bangun tidur pada pagi hari, ataupun sajian khas saat nongkrong bareng teman.
Penikmat kopi fanatik pun bahkan rela mengejar kualitas biji kopi pilihan dengan menjelajahi tiap daerah sekadar untuk mencicipi rasa pahit khasnya. Menjamurnya kafe pun menawarkan varian kopi dan suasana yang unik. Ada yang menyuguhkan racikan kopi khas tiap daerah, menyajikan musik akustik bagi pengunjung yang sedang ngopi, serta fasilitas akses Internet gratis. Namun tahukah Anda bahwa perbedaan cara membuat kopi akan menghasilkan rasa kopi yang berbeda?
Menurut Ade W. Tanoepratjeka, konsultan kopi dan barista, menyeduh kopi bisa mempengaruhi rasanya. "Dengan rasa itu, kita baru tentukan alat seduhnya," kata Ade di Senayan City, Selasa, 4 Juni 2013.
Pada umumnya, orang memilih teknik seduh praktis atau dikenal dengan kopi tubruk. Kopi dimasukkan dalam cangkir lantas diseduh dengan air mendidih. Rasa yang dihasilkan tentu akan berbeda dengan teknik seduh kopi yang lain, misalnya teknik pour over dan areo press.
Dari teknik pour over ini, kopi yang dihasilkan bertekstur lembut karena disaring dengan kertas, namun tetap memberikan kesan rasa yang kuat. Sedangkan teknik aero press menggunakan alat yang juga disebut aero press. Kopi yang diseduh dalam tabung ditekan sedemikian rupa sehingga bubuk kopi terendap di bagian bawah tabung. Dengan cara ini, rasa kopi yang keluar akan lebih kuat.
Pada jenis kopi tertentu, ada aturan main untuk membuat dan menyajikannya. Misalnya cappucino yang pada dasarnya adalah kopi dicampur susu. "Foam-nya harus setinggi 1 sentimeter," Ade menjelaskan. Aturannya, satu banding tiga, yakni kopinya satu dan susunya tiga. Jika susu lebih banyak lagi akan menjadi latte.
Bagi orang yang cari aman dalam meminum kopi, capuccino memang pilihan paling populer. Adi mengaku banyak pelanggannya yang sering memesan capuccino. Disayangkan sebenarnya karena banyak sekali varian kopi di Indonesia yang bisa dinikmati. Diakuinya pula bahwa banyak penikmat kopi dari mancanegara yang justru lebih kenal dengan kopi lokal Indonesia.
"Kalau kopi Indonesia dalam arti daerah penghasil kopi, mereka lebih kenal daripada kita. Sampai beberapa tahun ini, kopi kualitas bagus dari Indonesia larinya ke luar negeri semua, seperti Toraja Gayo, Mandailing, dan Jawa," ujar Ade, yang juga aktif memberikan pelatihan pembuatan kopi.
![]() |
| Cara Menyeduh Kopi Pengaruhi Rasa |
Menurut Ade W. Tanoepratjeka, konsultan kopi dan barista, menyeduh kopi bisa mempengaruhi rasanya. "Dengan rasa itu, kita baru tentukan alat seduhnya," kata Ade di Senayan City, Selasa, 4 Juni 2013.
Pada umumnya, orang memilih teknik seduh praktis atau dikenal dengan kopi tubruk. Kopi dimasukkan dalam cangkir lantas diseduh dengan air mendidih. Rasa yang dihasilkan tentu akan berbeda dengan teknik seduh kopi yang lain, misalnya teknik pour over dan areo press.
"Teknik pour over itu cara lama yang sekarang tren lagi," katanya. Kopi disaring dengan filter kertas. Cara menuangnya bisa bermacam-macam dan menghasilkan rasa yang berbeda. "Metode pour over filternya dibasahin dulu atau enggak, itu aja rasanya udah beda," Adi menjelaskan.
Dari teknik pour over ini, kopi yang dihasilkan bertekstur lembut karena disaring dengan kertas, namun tetap memberikan kesan rasa yang kuat. Sedangkan teknik aero press menggunakan alat yang juga disebut aero press. Kopi yang diseduh dalam tabung ditekan sedemikian rupa sehingga bubuk kopi terendap di bagian bawah tabung. Dengan cara ini, rasa kopi yang keluar akan lebih kuat.
Pada jenis kopi tertentu, ada aturan main untuk membuat dan menyajikannya. Misalnya cappucino yang pada dasarnya adalah kopi dicampur susu. "Foam-nya harus setinggi 1 sentimeter," Ade menjelaskan. Aturannya, satu banding tiga, yakni kopinya satu dan susunya tiga. Jika susu lebih banyak lagi akan menjadi latte.
Bagi orang yang cari aman dalam meminum kopi, capuccino memang pilihan paling populer. Adi mengaku banyak pelanggannya yang sering memesan capuccino. Disayangkan sebenarnya karena banyak sekali varian kopi di Indonesia yang bisa dinikmati. Diakuinya pula bahwa banyak penikmat kopi dari mancanegara yang justru lebih kenal dengan kopi lokal Indonesia.
"Kalau kopi Indonesia dalam arti daerah penghasil kopi, mereka lebih kenal daripada kita. Sampai beberapa tahun ini, kopi kualitas bagus dari Indonesia larinya ke luar negeri semua, seperti Toraja Gayo, Mandailing, dan Jawa," ujar Ade, yang juga aktif memberikan pelatihan pembuatan kopi.
Ketika Secangkir Kopi Jadi Kontroversi
TEMPO.CO, Jakarta - Siapa pun setuju kopi sering menimbulkan sejumlah kontroversi. Di satu sisi, minuman ini sangat populer dan disukai banyak orang. Namun di sisi lain, tak sedikit orang menghakimi dan menjauhi kopi dengan alasan khawatir efek yang ditimbulkannya.
Secara umum kopi memiliki khasiat. Sebagai contoh, bila Anda ingin merasa lebih bersemangat mengawali hari? Percaya atau tidak percaya, salah satu saran terbaik adalah meneguk secangkir kopi. Dengan menikmati secangkir kopi di pagi hari sebelum memulai semua kegiatan dipastikan akan memuluskan semua hari Anda.
Sebab, dalam khasiatnya, kafein yang terkandung di dalam kopi berguna untuk merangsang saraf pusat sehingga mampu meningkatkan energi dan mood. Penelitian dari Harvard School of Public Health juga membuktikan wanita yang rutin minum kopi berkafein di pagi hari memiliki level 20 persen lebih rendah dalam kecenderungan depresi ketimbang mereka yang tidak mengonsumsinya.
Kemudian, kopi juga baik bila diminum sebelum meeting atau rapat. Secangkir kopi dipercaya menjadi menu dan teman setia mengikuti rapat bahkan seharian bergelut dengan pembahasan berbagai permasalahan yang panjang. Disebutkan dalam European Journal of Social Psychology bahwa minum kopi sebelum rapat bisa "membuka" pikiran sehingga ide-ide pun mengalir lancar.
"Gue dan teman-teman sepakat kopi seperti sahabat sejati buat kita yang sibuk berkutat dengan rapat seharian," kata Apriani Windiarti, kepala divisi kreatif sebuah biro iklan di Jakarta.
Dalam jurnal kesehatan banyak pembahasan tentang manfaat kopi sebagai pelawan kantuk sering menjadi alasan kita mengonsumsinya. Meski tak secara harafiah menghilangkan rasa mengantuk, kafein memang dapat membantu memblok sinyal lelah yang disampaikan oleh otak ke otot. Oleh sebab itu, kita seperti mendapat tenaga dan semangat ekstra setelah minum segelas kopi.
Tak perlu heran juga melihat kedai kopi makin menjamur dan jadi pilihan utama untuk hangout. Menurut Laura Juliano, PhD dari American University, kopi memberi efek bahagia dan membuat kita lebih percaya diri sehingga membuat kita lebih mudah bersosialisasi.
Nah, tak dipungkiri, meski banyak manfaatnya, kopi juga memiliki berbagai efek negatif. Kafein yang merangsang saraf pusat dapat menimbulkan kecemasan atau kewaspadaan berlebih serta meningkatkan denyut jantung. Selain itu, meski berupa cairan kopi justru bisa menimbulkan dehidrasi. Hal ini berkaitan dengan sifat kopi, yakni diuretik, yang menyebabkan kita sering berkemih. Parahnya lagi, bukan hanya cairan tubuh yang hilang, tapi kalsium juga ikut hilang bersama urin. Jadi, dalam jangka panjang, mengonsumsi kopi bisa membuat kita terkena osteoporosis.
Seperti halnya nikotin, kafein juga memiliki efek candu yang bikin kita sulit menghentikan kebiasaan minum kopi. Sama dengan merokok juga, minum kopi secara terus-menerus dalam waktu lama dapat membuat gigi berwarna kekuningan dan menimbulkan lubang.
Peringatan tambahan bagi para pria: kopi bisa menyebabkan sperma "malas bergerak" sehingga pria penikmat kopi cenderung lebih sulit mendapatkan keturunan.
Namun, ada saran bijak untuk tetap menikmati kopi dengan cara membatasi. Maksudnya adalah untuk menyiasati efek-efek negatif kopi, hal utama yang perlu kita perhatikan adalah porsi yang dianjurkan. Jumlah wajar yang diperbolehkan untuk menikmati kafein adalah 300 miligram per hari atau setara dengan tiga cangkir kopi. Hal ini berlaku untuk orang dewasa yang sehat.
Bagi beberapa orang, ada yang memilih untuk sebaiknya mengurangi atau bahkan menghindari kopi. Tidak salah juga karena mereka adalah para penderita maag kronis yang merasakan kafein dapat merangsang sekresi berlebihan pada asam lambung. Demikian pula pada wanita hamil. Metabolisme biasanya melambat. Akibatnya, kafein bisa tertahan cukup lama dalam tubuh sehingga bisa meningkatkan tekanan darah.
"Kopi memang kerap jadi bahasan menarik. Selalu menimbulkan sisi kontroversi yang dicaci, tetap dicari, dan dicintai banyak orang. Kalau enggak ngopi bukan lelaki sejati," kata penyanyi dan pecipta lagu Iwan Fals beberpa waktu lalu di Serang. Bagi Iwan, kopi belahan jiwa, sahabat sejati yang membantunya memberikan inspirasi terhadap proses kelahiran karya-karyanya.
![]() |
| Ketika Secangkir Kopi Jadi Kontroversi |
Secara umum kopi memiliki khasiat. Sebagai contoh, bila Anda ingin merasa lebih bersemangat mengawali hari? Percaya atau tidak percaya, salah satu saran terbaik adalah meneguk secangkir kopi. Dengan menikmati secangkir kopi di pagi hari sebelum memulai semua kegiatan dipastikan akan memuluskan semua hari Anda.
Sebab, dalam khasiatnya, kafein yang terkandung di dalam kopi berguna untuk merangsang saraf pusat sehingga mampu meningkatkan energi dan mood. Penelitian dari Harvard School of Public Health juga membuktikan wanita yang rutin minum kopi berkafein di pagi hari memiliki level 20 persen lebih rendah dalam kecenderungan depresi ketimbang mereka yang tidak mengonsumsinya.
Kemudian, kopi juga baik bila diminum sebelum meeting atau rapat. Secangkir kopi dipercaya menjadi menu dan teman setia mengikuti rapat bahkan seharian bergelut dengan pembahasan berbagai permasalahan yang panjang. Disebutkan dalam European Journal of Social Psychology bahwa minum kopi sebelum rapat bisa "membuka" pikiran sehingga ide-ide pun mengalir lancar.
"Gue dan teman-teman sepakat kopi seperti sahabat sejati buat kita yang sibuk berkutat dengan rapat seharian," kata Apriani Windiarti, kepala divisi kreatif sebuah biro iklan di Jakarta.
Dalam jurnal kesehatan banyak pembahasan tentang manfaat kopi sebagai pelawan kantuk sering menjadi alasan kita mengonsumsinya. Meski tak secara harafiah menghilangkan rasa mengantuk, kafein memang dapat membantu memblok sinyal lelah yang disampaikan oleh otak ke otot. Oleh sebab itu, kita seperti mendapat tenaga dan semangat ekstra setelah minum segelas kopi.
Tak perlu heran juga melihat kedai kopi makin menjamur dan jadi pilihan utama untuk hangout. Menurut Laura Juliano, PhD dari American University, kopi memberi efek bahagia dan membuat kita lebih percaya diri sehingga membuat kita lebih mudah bersosialisasi.
Nah, tak dipungkiri, meski banyak manfaatnya, kopi juga memiliki berbagai efek negatif. Kafein yang merangsang saraf pusat dapat menimbulkan kecemasan atau kewaspadaan berlebih serta meningkatkan denyut jantung. Selain itu, meski berupa cairan kopi justru bisa menimbulkan dehidrasi. Hal ini berkaitan dengan sifat kopi, yakni diuretik, yang menyebabkan kita sering berkemih. Parahnya lagi, bukan hanya cairan tubuh yang hilang, tapi kalsium juga ikut hilang bersama urin. Jadi, dalam jangka panjang, mengonsumsi kopi bisa membuat kita terkena osteoporosis.
Seperti halnya nikotin, kafein juga memiliki efek candu yang bikin kita sulit menghentikan kebiasaan minum kopi. Sama dengan merokok juga, minum kopi secara terus-menerus dalam waktu lama dapat membuat gigi berwarna kekuningan dan menimbulkan lubang.
Peringatan tambahan bagi para pria: kopi bisa menyebabkan sperma "malas bergerak" sehingga pria penikmat kopi cenderung lebih sulit mendapatkan keturunan.
Namun, ada saran bijak untuk tetap menikmati kopi dengan cara membatasi. Maksudnya adalah untuk menyiasati efek-efek negatif kopi, hal utama yang perlu kita perhatikan adalah porsi yang dianjurkan. Jumlah wajar yang diperbolehkan untuk menikmati kafein adalah 300 miligram per hari atau setara dengan tiga cangkir kopi. Hal ini berlaku untuk orang dewasa yang sehat.
Bagi beberapa orang, ada yang memilih untuk sebaiknya mengurangi atau bahkan menghindari kopi. Tidak salah juga karena mereka adalah para penderita maag kronis yang merasakan kafein dapat merangsang sekresi berlebihan pada asam lambung. Demikian pula pada wanita hamil. Metabolisme biasanya melambat. Akibatnya, kafein bisa tertahan cukup lama dalam tubuh sehingga bisa meningkatkan tekanan darah.
"Kopi memang kerap jadi bahasan menarik. Selalu menimbulkan sisi kontroversi yang dicaci, tetap dicari, dan dicintai banyak orang. Kalau enggak ngopi bukan lelaki sejati," kata penyanyi dan pecipta lagu Iwan Fals beberpa waktu lalu di Serang. Bagi Iwan, kopi belahan jiwa, sahabat sejati yang membantunya memberikan inspirasi terhadap proses kelahiran karya-karyanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)






